Selasa, 29 Januari 2013

My First (right+spontaneous) Essay~



Istri yang Baik?
 
Sebelumnya, saya akan membenarkan perkataan salah seorang teman saya dari Jakarta. Dia pernah bilang, “Kamar mandi adalah tempat mencari ide yang paling baik.” Saya percaya perkataannya itu, karena khayalan saya juga selalu lancar saat berada di kamar mandi (dan tentunya, menjadi penyebab utama betapa lamanya saya mandi). Seperti yang terjadi beberapa detik yang lalu, yang mana ide tersebut akan saya tulis dalam esai saya kali ini.
Tak sedikit orang-orang di sekitar saya, keluarga saya, ataupun iklan yang muncul di televisi, yang menunjukkan bahwa istri yang pintar memasak, sudah pasti akan membuat suami tidak akan mudah memalingkan pandangnnya ke wanita lain. Boleh dibilang, bahasa sederhananya, istri yang baik itu, pintar memasak.
Tapi, tidak semua istri yang pintar memasak adalah istri yang baik. Terlebih, kalau istri yang pintar memasak itu juga temperamental.Bayangkan saja, bila anda, para suami, tidak sengaja membuat istri anda yang pintar memasak namun temperamental itu marah.
Lalu, beberapa jam kemudian, anda sekalian sudah tidak lagi terbaring di atas tempat tidur, tapi sudah berenang-renang bersama sayuran lain didalam panci. Tak akan ada satupun orang di rumah anda yang akan sadar bahwa mereka sedang menyantap daging anda sebagai makan malam, saking pintarnya keahlian istri anda dalam memasak.
Itu adalah kemungkinan terburuk. Paling tidak, anda-anda sekalian hanya akan menjadi manusia panggang dibelakang rumah. Karena itu, ada baiknya kita coret istri yang pintar memasak dari kategori istri yang baik.
Banyak orang yang bilang, saya tidak akan menjadi istri yang baik, karena saya tidak pintar memasak. Tapi sebagai perempuan yang akan menjadi seorang istri suatu hari nanti, saya memiliki keahlian lain yang biasanya juga dimiliki ibu rumah tangga yang lain. Keahlian itu adalah menjahit.
Memang, bila baju anda maupun baju anak-anak anda robek atau berlubang, istri yang pintar menjahit dapat dijadikan sebagai solusi, dibandingkan membawa baju tersebut ke tukang jahit, dan membayar mahal hanya untuk membuat sebuah lubang kecil disana menutup kembali. Dan kalau keahlian menjahit istri anda sudah mencapai tingkat tinggi, anda tidak perlu lagi membeli jaket ataupun sweater berbahan wol yang mahal di department store. Anda cukup meminta istri anda membuatkannya, dan, voila! Sweater khas buatan tangan sudah ditangan anda. Anda juga tidak perlu membeli taplak meja. Cukup dengan memberikan sehelai kain yang biasa dipakai untuk taplak meja yang polos, dan biarkan istri anda mempercantik meja tamu dengan sulamannya yang indah. Anda tidak perlu membeli benda-benda kecil berbahan kain lainnya, karena istri anda dapat menjahitkannya untuk anda dengan mudah.
Sampai disini, mungkin anda sedang berpikir, “Benar juga. Istri yang pintar menjahit juga bisa dibilang sebagai istri yang baik, ya.” Tapi tunggu, terlalu cepat bagi anda untuk mengambil kesimpulan. Karena, tidak semua istri yang pintar menjahit itu adalah istri yang baik. Terlebih kalau istri anda memiliki kesabaran tingkat rendah.
Bayangkan saja, bila anda, para suami, sedang bertengkar dengan istri anda yang sedang menjahit. Tangan istri anda yang sedang menutup lubang kecil di baju tersebut dengan benang dan jarum jahit, bisa saja berpindah tugas menjadi menutup lubang mulut anda yang sedang melontarkan kalimat pembelaan, umpatan, ataupun cibiran. Atau biar sekalian lengkap, mata anda juga ditutup supaya mata itu tidak terus-terusan menatap istri anda dengan tatapan penuh kebencian.
Mau yang lebih buruk? Tangan anda akan disatukan dengan tubuh anda, dan kaki anda akan dirapatkan. Lalu dada anda akan disulam dengan bentuk mawar hitam. Terlalu buruk? Ya, paling tidak, tangan istri anda yang sedang memegang jarum, bisa saja dilayangkan ke mata anda, supaya perhatian anda teralih sepenuhnya. Jarum memang senjata pembunuh kontroversial yang murah meriah.
Masih berani punya istri yang pintar menjahit? Mari kita coret pilihan tersebut dari kategori istri yang baik.
Memakai baju yang bersih dan wangi ke tempat kerja adalah salah satu dari kenyamanan harian yang dapat diberikan seorang istri kepada suaminya. Jangan salah, mencuci adalah sebuah keahlian tersendiri yang sunah muakad dimiliki oleh setiap istri. Keahlian yang kurang dalam hal mencuci (pakaian maupun benda lainnya) akan menyebabkan baju tidak nyaman dipakai karena ada sabun cuci yang tertinggal dan ikut kering dibaju, alat makan yang menjadi beracun karena sabun yang juga masih tertinggal, atau hal-hal lain yang akan menimbulkan ketidak nyamanan sebagai akibatnya. Memiliki istri yang pintar mencuci juga dapat mengurangi pengeluaran anda, yang biasanya dipakai untuk me-laundry pakaian kotor.
Tapi, apakah seorang istri yang sedang mencuci, yang dengan sigap dan amarah meluap, menuangkan sabun cuci dan pemutih pakaian kedalam mulut suaminya, adalah istri yang baik? Baiklah, saya tahu hal itu hanya akan terjadi jika wanita tersebut adalah orang yang temperamental kelas kakap. Namun, dari contoh kejadian diatas, kita dapat menarik kesimpulan, bahwa ada baiknya bila kita coret istri yang pintar mencuci dari kategori istri yang baik.
Istri yang pintar mencuci, dicoret. Istri yang pintar menjahit, dicoret. Istri yang pintar memasak? Dicoret juga. Jadi, istri yang baik itu, istri yang seperti apa sih?
Istri yang baik adalah istri yang solehah, yang rajin mengaji, hobi berpuasa, dan ketagihan dengan satu-satunya alat komunikasi antara kita dengan Allah SWT, yaitu sholat. Istri yang baik, adalah istri yang selalu mendoakan keluarganya agar terhindar dari api neraka, yang selalu mendukung hal baik yang anda lakukan, dan dapat mengembalikan anda ke jalan yang benar bila anda sudah melenceng terlalu jauh. Istri yang baik dapat membuat anda tidak dapat berpaling darinya, walaupun tanpa makanan, tanpa keahliannya dalam hal menjahit maupun keahliannya dalam hal mencuci. Istri yang baik akan selalu berusaha untuk tersenyum di depan anda dan anak-anak anda, dan akan selalu berusaha membuat anda dan anak-anak anda tersenyum walau ia sendiri sedang tidak bisa tersenyum.
Itulah, istri yang baik.

>E.P.P.H.<

Tidak ada komentar:

Posting Komentar