Oke. Sosiologi. Salah satu mata pelajaran
yang paling aku gak suka. Tapi anehnya, aku selalu sukses dimata pelajaran ini.
Sedangkan mata pelajaran yang aku suka malah sering kali gak suskes. Berhubung
tadi malam aku bergadang sampai jam 1 gara-gara tugas sosiologi (yang ternyata
hari ini gak jadi dikumpul), aku memilih untuk tidur menyanggupi hasutan
setan-setan disekitarku.
"Jadi, apa yang menyebabkan perilaku
menyimpang?" suara Pak Marwa yang agak lembut, sedikit mendayu-dayu di
telingaku. Melantun indah bagaikan lagu tidur yang mematikan.
Tapi, bagian dari diriku yang selalu sok
tahu dan tak tahan untuk menjawab pertanyaan yang aku tahu jawabannya,
memaksaku untuk mengeluarkan suara dan menjawabnya. Jadinya.....
"Sosialisasi yang tidak
sempurnaaa....." jawabku setengah hidup, dengan jiwa melayang setengah.
Lebih baik aku menghadapi pelajaran matematika-nya Pak Faiq daripada menghadapi guru yang satu ini. Aku mengumpat. Entah apa yang aku katakan, tapi aku yakin aku tidak perlu memberitahu kalian.
Kenalkan, aku Atha. Aku sekarang duduk di
kelas 1 SMA, SMAN 10 “MELATI” Samarinda.
Satu-satunya sekolah berasrama di Kalimantan Timur, dan satu-satunya
sekolah negeri yang berasrama di Indonesia. Masuk sekolah ini, bukanlah suatu
perkara yang mudah, baik pra-masuknya maupun pasca masuknya. Ya, kegiatan
asrama begitu padat, sehingga tidaklah heran kalau pada saat perta,a kali
masuk, banyak sekali temanku yang kabur ke alam mimpi pada saat pelajaran.
Begitu aku menutup mataku, aku melihat
bahwa teman-temanku semua malah terbangun dan memandangku dengan tatapan aneh.
Aku membuka mataku, tapi yang kutemukan adalah setengah dari 29 teman sekelasku
meletakkan kepalanya di atas meja. Aku menutup mataku lagi, dan aku kembali
melihat hal yang sama. Alam bawah sadarku terus memberitahu bahwa itu
benar-benar terjadi, walaupun sebenarnya tidak. Aku menegakkan kepalaku, hanya
kepalaku, karena kesal dan membuka mataku.
Tiba-tiba di kepalaku terlintas sebuah nada
lagu anime yang sudah cukup lawas. Lagunya slow,
tapi butuh teknik dan suara yang tepat untuk menyanyikannya. Aku melantunkan
sebaris liriknya...
♫donna
fuu ni ikireba shiawase ni nareru n darou♫
Ah,
nii-san. Aku merindukan sahabatku yang satu itu. Ia sangat senang menyanyikan
lagu yang itu. Kami satu angkatan, tapi dia sudah kuanggap sebagai kakakku
sendiri. Nii-san juga sudah menganggapku sebagai adiknya sendiri, yang harus
selalu dilindunginya dan dibelanya. Aku begitu menyayanginya sampai aku tak
rela berpisah dengannya saat ia tidak jadi masuk ke sekolah tempat aku menempa
ilmu sekarang ini.
Aku masih ingat saat kami mendiskusikan
tentang Fullmetal Alchemist: Brotherhood dengan semangat '45. Aku juga ingat
bahwa kami sempat memperebutkan peran tokoh utama di anime itu. Edward Elric,
adalah tokoh utama dari anime ini. Ia memiliki adik bernama Alphonse Elric.
Diceritanya, di umur mereka yang masih sangat muda, Ayah mereka pergi
meninggalkan mereka hanya dengan Ibu mereka. Tak lama setelah itu, Ibu dari
mereka berdua ini mulai sakit-sakitan, namun ia tetap berjuang membesarkan Ed
dan Al dengan penuh cinta dan senyuman. Sampai pada saat umur Ed 5 tahun dan Al
4 tahun, Sang Ibu menyerah pada penyakitnya. Ed yang tidak terima, berhasrat
untuk mempelajari Alkemi dan menghidupkan kembali ibunya.
Langsung saja, setelah kurang lebih 1 tahun
mempelajari Alkemi, Ed dan Al segera mempersiapkan segala hal yang dibutuhkan
dalam Transmutasi Manusia, jalan yang akan mereka tempuh untuk menghidupkan
ibunya. Begitu Lingkaran Transmutasi, lingkaran dengan berbagai pola garis
didalamnya dan unsur utama untuk melakukan transmutasi, selesai dibuat, dan
bahan-bahan yang dibutuhkan sudah ditaruh ditengah, semuanya siap dimulai.
Namun hasilnya, tidak seperti yang mereka
harapkan. Bahkan jauh dari yang mereka harapkan. Ed dan Al benar-benar
melupakan tentang Pertukaran Sepadan. Semua yang mereka inginkan, pasti ada
bayarannya. Teori ini membuat Al kehilangan seluruh tubuhnya, dan Ed kehilangan
kaki kirinya. Hal ini membuat Ed depresi berat. Ditambah lagi dengan yang
muncul dari transmutasi itu bukanlah ibunya. Lalu sambil berurai air mata, ia
menjatuhkan salah satu baju zirah milik ayahnya yang paling dekat. Menggunakan
darahnya, ia menggambar lingkaran darah untuk mengembalikan jiwa Al. Dengan
bayaran tangan kanannya, jiwa Al kembali dan mendiami baju zirah tersebut.
Aku selalu ingin menjadi Ed, karena ia
adalah tipikal kakak yang, menurutku, lebih baik dari aku yang sekarang. Tapi
nii-san sama sekali tidak mengizinkanku menjadi Ed. Yap, aku dipaksa untuk
menjadi Al. Dan aku masih ingat apa kata nii-san untuk meyakinkanku memerankan
Al.
"Kamu
mau jadi Ed?! Enak aja! Heh, apa kamu itu emosian?! Apa kamu gak suka minum
susu?! Apa kamu mau dibilang─ hn... dibilang... Ha~h, PENDEK?!!"
Sebenarnya aku ingin tertawa mendengarkan sugesti
nii-san, karena, setelah aku pikirkan kembali, sifat nii-san kebanyakan memang
mirip dengan Ed. Dan juga, nii-san itu lebih pendek dari aku. Memang tidak
salah kalau aku jadi Al dan dia jadi Ed. Dan juga, aku menyukai kucing, seperti
Al. Dengan─ saat itu─ berat hati, aku menerima peranku dan mulai memanggilnya
nii-san. Karena di anime itu, Al memanggil Ed dengan panggilan nii-san. Nii-san
dalam bahasa jepang, adalah panggilan untuk kakak laki-laki. Agak aneh memang karena yang kupanggil dengan
panggilan nii-san itu adalah seorang cewek.
Mau ketemu nii-san lagi! Tapi bagaimanapun
juga, tidak semudah itu. Saat aku libur, terkadang ia masuk sekolah, begitu pun
sebaliknya. Saat kami sama-sama libur, entah kenapa takdir tidak pernah
mempertemukan kami.
♫saatnya jam ketiga dimulai. It’s time
to begin the third lesson.♫
Akhirnya,
suara yang aku tunggu-tunggu. Aku segera membereskan barang-barangku dan salim
dengan Pak Marwa. Setelah itu, aku melesat menuju ruang 3, dimana Pak Faiq
menunggu kami untuk diajarkan Matematika. Aku berjalan setengah berlari, karena
Pak Faiq hanya memberi kami waktu 5 menit untuk berpindah ke kelasnya.
####
What do you think, minna-sama? ^^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar